Kalau Anda menyebut nama Abbad Nelun Abdillah, mungkin belum banyak yang mengenalnya. Tapi di lingkaran sepak bola usia dini di Sidrap dan sekitarnya, anak 10 tahun ini sudah seperti “nama wajib” dalam daftar juara.

Ia lahir di Pjene, 27 Juni 2015. Masih kelas 5 SD di UPTD Negeri 3 Teteaji. Nomor punggungnya unik: 1 + 8. Kadang ditulis 18, kadang memang disebutnya “satu tambah delapan”. Seakan-akan angka itu bukan sekadar nomor, tapi simbol—bahwa ia bukan hanya satu, tapi juga bagian dari tim yang lebih besar.
Kapten Junior Pesat. Begitu teman-temannya menyebutnya. Pesat, klub kecil yang mulai sering bikin resah tim-tim besar. Abbad adalah kaptennya.
Dan kapten ini bukan sembarang kapten. Ia sudah 8 kali berturut-turut mengangkat piala juara. Bukan hanya di turnamen kecil, tapi juga di ajang-ajang bergengsi. Termasuk terbaru, PSM Cup U-10.
Bayangkan. Delapan kali berturut-turut. Anak seusia itu, dengan tubuh kecilnya, sudah terbiasa berdiri paling depan saat lagu kemenangan diputar.
Tentu, kemenangan tak pernah lahir begitu saja. Orang tuanya bercerita: ia lebih sering memeluk bola daripada main gawai. Ia berlari-lari di halaman saat sore, menendang bola ke dinding, menjemput teman-temannya untuk latihan kecil-kecilan.
Kalau ditanya cita-cita? Jawabannya singkat: “Mau jadi pemain besar. Kapten juga.”
Kapten kecil ini memang bukan hanya jago menggiring bola. Ia juga jago membangun semangat. Teman-temannya bilang: Abbad tidak suka menyalahkan. Kalau ada yang salah oper, ia lebih sering berkata: “Tidak apa-apa, ayo lagi.”
Mungkin inilah rahasia kenapa Pesat bisa “pesat” benar dalam meraih juara. Karena mereka punya kapten yang tidak hanya memimpin dengan kaki, tapi juga dengan hati.
Abbad Nelun Abdillah. Nama yang masih kecil. Tapi siapa tahu, kelak akan kita dengar di layar kaca, di papan skor stadion besar, atau bahkan di daftar skuad Garuda.
Untuk sekarang, biarlah ia terus bermain dengan senyum kanak-kanaknya. Karena dari situlah lahir juara sesungguhnya. (*)















