Pinrang 13 News : Upaya menjaga ketersediaan air irigasi di tengah kondisi kemarau terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Pinrang bersama masyarakat.
Salah satunya melalui kolaborasi Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca) Mattiro Sompe dan masyarakat tani dengan melakukan pompanisasi pada saluran pembuang Katteong untuk menambah debit air pada saluran sekunder Patobong, tepatnya di bangunan talang air Cappakala, Desa Samaenre.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya bersama untuk memastikan distribusi air irigasi tetap berjalan sehingga kebutuhan air bagi lahan pertanian masyarakat di wilayah aliran Patobong, Beru, Makoring dan sekitarnya dapat tetap terpenuhi.
Camat Mattiro Sompe A. Akbar Rudy mengungkapkan, pompanisasi tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan debit air.
Menurutnya, penambahan debit melalui pompanisasi diharapkan dapat membantu memperlancar distribusi air ke wilayah pertanian yang membutuhkan.
“Ini kita lakukan bersama untuk menambah debit sekaligus memperlancar distribusi air. Harapannya, kebutuhan air untuk lahan pertanian masyarakat dapat tetap terpenuhi sehingga aktivitas pertanian bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih terjaga di tengah masyarakat. Pemerintah bersama petani berupaya mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapi dengan mengutamakan kepentingan bersama.
Kolaborasi ini dinilai penting karena keberlangsungan sektor pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air, terutama saat memasuki musim kemarau. Dengan distribusi air yang lebih terjaga, petani diharapkan dapat mempertahankan produktivitas lahan sekaligus mengurangi risiko tanaman mengalami kekurangan air.
Selain melakukan pompanisasi, masyarakat tani juga menyatakan komitmennya untuk bersama-sama menjaga jaringan irigasi yang telah tersedia.
Salah satu bentuk komitmen tersebut adalah tidak melakukan praktik yang dapat merusak saluran, termasuk membuat saluran baru secara sepihak yang berpotensi mengganggu sistem distribusi air.
A. Akbar Rudy menegaskan, menjaga jaringan irigasi merupakan tanggung jawab bersama karena kerusakan pada satu bagian saluran dapat berdampak terhadap distribusi air kepada petani di wilayah lainnya.
Olehnya itu, koordinasi antara pemerintah, petani dan seluruh pihak terkait diharapkan terus diperkuat agar setiap persoalan distribusi air dapat diselesaikan secara bersama-sama tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat lainnya.
Melalui langkah tersebut, ketersediaan air pada jaringan irigasi di wilayah Patobong, Beru, Makoring dan sekitarnya diharapkan dapat lebih terjamin.
Kondisi ini pada akhirnya tidak hanya membantu petani dalam memenuhi kebutuhan air tanaman, tetapi juga menjaga produktivitas pertanian sebagai salah satu sektor penting dalam menopang perekonomian masyarakat Kabupaten Pinrang.
Upaya pompanisasi ini menjadi salah satu bentuk nyata bahwa keterbatasan air dapat dihadapi melalui sinergi, kepedulian dan gotong royong, dengan tujuan utama memastikan manfaat pembangunan dan pengelolaan sumber daya air benar-benar dirasakan oleh masyarakat, khususnya para petani.(*/)

















